Tulisan blog ini mengkaji bagaimana perbedaan budaya antara Barat dan Timur memengaruhi cara berpikir dan tatanan dunia. Kita akan mengeksplorasi bagaimana karakteristik masing-masing budaya terbentuk dan mempertimbangkan perubahan apa yang mungkin ditimbulkannya di masa depan.
Penulis Richard Nisbett tidak mengakui perbedaan budaya hingga sekitar 12 tahun sebelum menulis buku ini. Ia percaya, dengan cara yang khas 'Barat', bahwa orang menggunakan aturan penalaran yang sama tanpa memandang budaya. Kemudian, ia bertemu dengan seorang mahasiswa pascasarjana dari Tiongkok yang memberinya nasihat tentang perbedaan budaya antara Barat dan Timur, tetapi awalnya ia skeptis. Namun, universalis ini mengubah perspektifnya melalui serangkaian studi yang meneliti apakah kemampuan penalaran manusia dapat diubah oleh pendidikan. Berubah menjadi psikolog budaya, ia berusaha memahami budaya Barat dan Timur melalui berbagai studi eksperimental dengan mahasiswa pascasarjana dan kolega. Ia menekankan bahwa alih-alih memisahkan dan membandingkan Timur dan Barat secara dikotomis, setiap budaya menunjukkan kecenderungan rata-rata tertentu.
Ciri-ciri Barat modern dapat ditelusuri kembali ke Yunani kuno, sementara ciri-ciri Timur modern berakar pada Tiongkok kuno. Yunani kuno, yang terorganisir sebagai negara-kota, adalah wilayah dengan garis pantai yang luas di mana perdagangan berkembang lebih pesat daripada pertanian. Penduduknya sering berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan gagasan, bertemu dengan individu yang memiliki pandangan yang berlawanan. Seringkali, individu harus menghidupi diri sendiri secara mandiri daripada secara kolektif bergantung pada komunitas untuk mata pencaharian. Pergerakan antar negara relatif bebas, memungkinkan gagasan yang ditolak di satu negara untuk disajikan kembali di negara lain. Lingkungan ekologis dan sosial Yunani kuno ini memupuk rasa ingin tahu intelektual dan otonomi. Perenungan konsep abstrak, pembentukan teori murni, dan pengembangan retorika adalah perhatian utama mereka.
Sementara itu, Tiongkok kuno beroperasi sebagai sistem terpusat, dikelilingi oleh sungai-sungai yang dapat dilayari dan hamparan lahan yang luas. Membangun kanal dan mengolah lahan untuk pertanian membutuhkan tenaga kerja banyak orang, yang menjadikan sebuah desa berfungsi sebagai organisme tunggal. Sebagai anggota masyarakat, individu harus memenuhi perannya masing-masing dan berusaha menjaga keharmonisan kolektif. Alih-alih menyatakan pendapat sendiri secara gamblang, sikap yang luwes dan berkompromi dibutuhkan untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Di Tiongkok kuno, ilmu pengetahuan diupayakan bukan untuk memuaskan keingintahuan intelektual, melainkan sebagai disiplin praktis dengan nilai nyata. Mereka percaya bahwa unsur-unsur yang kontradiktif dapat hidup berdampingan, dan bahwa alam semesta itu kompleks, yang berarti banyak sebab memengaruhi hasil. Karakteristik Yunani kuno dan Tiongkok kuno ini menjadi fondasi bagi budaya Barat dan Timur modern.
Menurut klasifikasi antropolog Edward Hall, Barat dapat digambarkan sebagai masyarakat konteks rendah, sedangkan Timur adalah masyarakat konteks tinggi. Dalam masyarakat konteks rendah, individu dapat dibahas secara terpisah dari konteks situasional mereka, sedangkan dalam masyarakat konteks tinggi, individu terhubung erat dengan orang lain dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan kontekstual di sekitarnya. Akibatnya, orang Barat cenderung melebih-lebihkan keunikan mereka, sementara orang Timur cenderung meremehkan diri mereka sendiri, melihat diri mereka mirip atau lebih rendah dari orang lain. Orang tua Barat menekankan kemandirian pada anak-anak mereka, sedangkan orang tua Timur menekankan saling ketergantungan. Gaya pengasuhan dan karakteristik budaya ini membentuk sistem pemikiran yang berbeda pada anak-anak yang dibesarkan dalam masing-masing budaya.
Orang Barat cenderung berpikir secara independen dari konteks karena mereka memisahkan bentuk dan isi untuk melihat objek individual, sementara orang Timur cenderung berpikir bergantung pada konteks karena mereka melihat materi yang berkelanjutan dalam konteks keseluruhan. Lebih lanjut, orang Barat mengaitkan penyebab suatu hasil dengan atribut suatu objek, sedangkan orang Timur menganggap bahwa kemungkinan ada penyebab yang kompleks dan beragam, termasuk situasi tersebut. Orang Barat lebih mahir menggunakan logika formal daripada orang Timur dan umumnya lebih menyukai logika pilihan biner, tetapi hal ini membuat mereka rentan terhadap kesalahan atribusi dasar. Orang Timur cenderung lebih toleran terhadap kontradiksi dan kurang bersemangat untuk berdebat daripada orang Barat, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk unggul dalam retorika. Pendapat berbeda mengenai apakah perbedaan antara Barat dan Timur ini akan semakin intensif atau saling menyerap, tetapi penulis percaya bahwa perbedaan tersebut akan bertemu di titik tengah karena masing-masing pihak mengakomodasi pihak lain.
Tampaknya orang-orang di sekitarnya sangat memengaruhi pergeseran fokus penulis ke psikologi budaya dan penulisan buku ini. Ia dikelilingi oleh mahasiswa pascasarjana dan kolega dari berbagai negara yang melakukan penelitian bersamanya atau berpartisipasi dalam studinya. Kemampuan untuk meneliti perspektif Barat dan Timur secara setara dari sudut pandang seorang peneliti terbukti sangat bermanfaat baginya. Sebagian besar buku ini terdiri dari studi eksperimental yang ia dan koleganya lakukan bersama. Meskipun ukuran sampel yang digunakan dalam penelitian tidak disebutkan secara spesifik, temuan yang disajikan oleh penulis menunjukkan bahwa perbedaan dalam sistem kognitif antara budaya Barat dan Timur sangat signifikan. Di era globalisasi ini, negara-negara telah memperoleh lebih banyak titik perbandingan, yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dan memperkuat karakteristik yang diperlukan. Akibatnya, di Timur, termasuk Korea, pelatihan dalam berpikir logis dan kritis dimulai sejak sekolah dasar. Di Barat, penekanan diberikan pada pengembangan sikap yang kondusif untuk kehidupan bermasyarakat dan menumbuhkan pemahaman tentang orang-orang dari berbagai ras dan agama.
Bahkan dalam satu lingkup budaya yang sama, individu dapat memiliki ciri-ciri yang berorientasi Barat atau berorientasi Timur. Masalah antara individu-individu tersebut cenderung diselesaikan lebih lancar daripada masalah antara orang-orang dari budaya yang berbeda. Dalam lingkup budaya yang sama, meskipun satu orang berfokus pada atribut suatu objek dan yang lain pada konteks suatu situasi, pendekatan mereka untuk memecahkan masalah akan serupa. Jika kedua individu tersebut adalah orang Barat, mereka kemungkinan akan menentukan kemenangan atau kekalahan berdasarkan penalaran logis. Jika keduanya adalah orang Timur, mereka kemungkinan akan mempertimbangkan konsesi untuk menemukan kompromi yang sesuai. Namun, jika kedua individu ini berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, orang Barat kemungkinan akan berusaha mengidentifikasi hanya satu argumen yang benar melalui debat, sementara orang Timur kemungkinan akan mengharapkan konsesi dari pihak lain untuk menemukan kompromi. Berdasarkan realitas ini, memahami perbedaan budaya sangat penting ketika berurusan dengan isu-isu internasional.
Meskipun Korea dan Jepang telah sepenuhnya merangkul budaya Barat, ini bukan karena negara-negara Timur yang terbaratkan tidak dapat berkembang tanpa bantuan Barat. Tidak seperti agama-agama Barat, agama-agama Timur cenderung merangkul kepercayaan lain dan mengejar harmoni. Demikian pula, negara-negara Timur menyadari posisi dan peran mereka di dunia. Lebih jauh lagi, orang-orang Timur, yang memiliki pemikiran reflektif diri, lebih bersemangat untuk belajar dari Barat untuk memperbaiki kekurangan mereka sendiri dibandingkan dengan orang-orang Barat. Namun, meskipun mereka menyadari kekurangan mereka, mereka seringkali tidak dapat mengartikulasikan mengapa mereka harus memperbaikinya. Ini karena orang-orang Timur unggul dalam memahami 'bagaimana' tetapi kurang memperhatikan 'mengapa'. Melihat sejarah, banyak penemuan besar dunia berasal dari Tiongkok kuno. Orang-orang Tiongkok kuno menciptakan penemuan sebagai solusi untuk masalah. Sementara itu, orang-orang Yunani kuno mempertanyakan penyebab masalah, berkumpul di alun-alun publik, dan menyempurnakan teori dengan mengkritik atau mendukung ide satu sama lain. Sama seperti kombinasi genetik yang beragam membantu kelangsungan hidup individu dan pelestarian spesies, beragam budaya yang memainkan peran masing-masing memungkinkan peradaban manusia untuk berkembang.
Fakta bahwa Amerika Serikat, sebuah negara adidaya global, waspada terhadap Tiongkok, yang mungkin muncul sebagai negara adidaya di masa depan, dapat dilihat sebagai cerminan perspektif Timur dalam memandang situasi secara dinamis. Misalnya, jika tingkat pertumbuhan tahunan Tiongkok meningkat sementara tingkat pertumbuhan AS menurun, menurut kerangka kognitif Barat, orang mungkin berpikir tren ini tidak akan berubah. Sebaliknya, dalam kerangka kognitif Timur, orang mungkin mengantisipasi bahwa tren ini dapat bergeser kapan saja. Dalam skenario ini, Amerika Serikat kemungkinan akan merasakan krisis dan berupaya mengurangi laju penurunan tingkat pertumbuhannya—respons yang dihasilkan dari penerapan cara berpikir Timur. Tiongkok, menyadari bahwa tingkat pertumbuhannya sendiri mungkin tidak berkelanjutan selamanya, akan mempersiapkan diri sesuai dengan itu. Meskipun strategi-strategi tersebut mungkin tampak tidak signifikan dalam jangka pendek, strategi tersebut memainkan peran penting dalam memastikan pertumbuhan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Buku ini mengkaji perbedaan kognitif antara Barat dan Timur berdasarkan berbagai studi eksperimental dan temuan-temuan mereka. Namun, penulis menyimpulkan dengan menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan ini akan selaras ke arah yang menguntungkan bagi Barat maupun Timur.